Berawal dari penasaran trik Sherlock lolos dari kematian ketika loncat dari atas gedung, akhirnya dapet juga link. Berikut Episode Sherlock Holmes Series 3, selamat menonton ;)
1. episode 0 - Many Happy Returns ---> http://youtu.be/JwntNANJCOE
subtitle : http://subscene.com/subtitles/sherlock-third-season/indonesian/840212
2. episode 1 - The Empty Hearse ---> http://keepvid.com/?url=http%3A%2F%2Fvimeo.com%2F83279934
subtitle : http://subscene.com/subtitles/sherlock-third-season/indonesian/843719
3. episode 2 - The Sign of Three ---> http://keepvid.com/?url=http%3A%2F%2Fvimeo.com%2F83651868
subtitle : http://subscene.com/subtitles/sherlock-third-season/indonesian/843421
4. episode 3 - His Last Vow ---> http://keepvid.com/?url=http%3A%2F%2Fvimeo.com%2F84130887
subtitle : http://subscene.com/subtitles/sherlock-third-season/indonesian/846345
Sumber :
http://vimeo.com/84130887
http://subscene.com/
Jumat, 28 Februari 2014
Senin, 01 Juli 2013
Isi Otakku
Entah apa yang telah aku alami. Aku merasa diri tersetting seperti ini, entah karena lingkungan, entah karena pola hidup, atau entah karena hidayah Allah yang tak ku sadari. Aku menjadi orang yang ekstrovet, hampir di setiap bagian hidupku aku tergantung pada pihak luar akan mengenai keputusan hidupku. Tetapi untuk suatu kenyataan (realisasi dari sebuah impian/tujuan) otakku menjadi introvert.
Untuk beberapa kalinya, suatu kejadian ketika seorang A mengemukakan tujuan hidupnya adalah A, dan ketika dalam kehidupan nyata ia merealisasikannya jauh dari tujuan A, maka sejak detik itu pula rasa respectku terhadapnya mulai pudar. Aku tahu, Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihan & kelemahan masing-masing. Bahkan aku paham, aku pun terkadang demikian. Aku berkata apa, eh yang aku lakukan apa kenyataannya apa, tidak sesuai rencana.
Aku sadar, aku ga adil jika menghakimi orang seperti itu. Tetapi sekarang aku belum bisa menyembunyikan isi otakku yang demikian. Suatu hari pernah terjadi perdebatan, bahwa ketika seseorang merencanakan bahkan ia berani menilai hidupnya adalah B (seorang sosialis), ketika dalam perjalanannya ia menunjukkan sifat-sifat tidak sosial aku berfikir ia adalah maaf...munafik. Bahkan ketika ia seorang pria, berlaku tidak konsisten membuat benar-benar sangat tidak respect lagi padanya. Ia adalah calon-calon imam bagi keluarganya kelak, bagaimana anaknya akan meniru jika apa yang ia nasihatkan tidak sesuai dengan apa yang ia teladankan.
Pesan saya :
Mari kita belajar mempertanggungjawabkan segala perkataan kita :)
Jika belum berani mempertanggungjawabkan segala perkataan, ada baiknya diam, dan jalani kehidupan tanpa pelabelan diri. (itu menurut saya) (≧◡≦)
Muhasabah Diri
Urgensi dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].
Saya bukan seorang pendakwa, bahkan jauh dari kata seorang mubaligh. Yang ingin saya posting di sini hanyalah sebagai bentuk evaluasi diri.
Tak terasa ramadhan akan datang kembali. Ramadhan tahun ini akan sangat berbeda untukku. Mengapa? Ini merupakan kali pertama ramadhan bagiku tanpa seorang ayah. Ramadhan pertamaku berada jauh dari Ibu & adik. Dan....yah, ramadhan pertamaku tanpa seorang yang selalu setia membangunkan sahur mengajakku tarawih berjamaah, dia adalah Krisna Surya Nugraha.
Semuanya serba pertama, mungkin diawal akan terasa berat. Setahun yang lalu, aku berbuka bersama keluarga kecilku dengan segala suka dan dukanya. Siapa yang tahu jika tahun kemarin adalah ramadhan terakhirku bersama seorang ayah. Sosok yang sangat dekatku dari aku lahir. Sosok yang sering membuatku demam karena berada jauh darinya. Tapi beliau lah yang mendidikku juga menjadi seorang anak yang mandiri. Beliaulah yang mengirimku dengan "paksa" ke kota Bandung ini.
Di
awal aku sangat membencinya, karena membiarkan aku pergi jauh dari
sisinya. Aku pun sempat membencinya karena ketika aku meminta agar ayah
sembuh untuk menghadiri wisudaku, beliau pun menolaknya. Tetapi aku
sadar sekarang, beliau bersikap demikian adalah cara beliau untuk
mendidikku. Mempersiapkan aku untuk kondisi terburuk seperti ini.
Ayah....maafkan aku yang dahulu pernah salah sangka atas cara
didikanmu.Semuanya serba pertama, mungkin diawal akan terasa berat. Setahun yang lalu, aku berbuka bersama keluarga kecilku dengan segala suka dan dukanya. Siapa yang tahu jika tahun kemarin adalah ramadhan terakhirku bersama seorang ayah. Sosok yang sangat dekatku dari aku lahir. Sosok yang sering membuatku demam karena berada jauh darinya. Tapi beliau lah yang mendidikku juga menjadi seorang anak yang mandiri. Beliaulah yang mengirimku dengan "paksa" ke kota Bandung ini.
Untuk teman-teman jika masih diberi kesempatan oleh Allah SWT berkumpul dengan keluarga, utamanya ayah ibumu, gunakanlah waktu tersebut dengan sebaik-baiknya, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kontrak kita atau mereka habis di bumi Allah ini :")
Ramadhan tahun ini akan penuh dengan perbedaan. Aku tahu segala sesuatu yang terjadi padaku tak terlepas dari kuasa Allah SWT. Semoga Allah masih berkenan menuntunku untuk selalu beristiqomah di jalan-Nya. Teringat suatu posting bang Alit "bersyukurlah... Saat Tuhan memberimu jalur kehidupan yang berbeda dari anak-anak lain...maka kamu juga bakal jadi orang yang berbeda dari orang-orang lain kelak."
Tetaplah berjuang.. jangan menyerah.. jangan mengeluh.. Tetap bersyukur.. Biarkan orang-orang tersayangmu tersenyum melihatmu di surga.. :)
Senin, 22 April 2013
“Melatih Pengembangan Diri, Kepercayaan Diri dan Kepemimpinan”
Sebuah petuah dari seorang bapak Dosen Politeknik Pos Indonesia, pak Indra.... :)
4 Kiat untuk tetap termotivasi dalam hal
pengembangan diri
Menjadi sukses adalah impian semua
orang. Tentunya untuk itu diperlukan motivasi yang kuat untuk mengatasi tantangan
untuk mencapai apa yang di inginkan. Motivasi ini harus ditumbuhkan dari dalam
diri sendiri. “Motivasi adalah pohon yang disiram dengan kedisiplinan diri”.
Mudah untuk hidup termotivasi. Kuncinya adalah rasakan hal-hal yang
membahagiakan dan bayangkan kesuksesan yang akan diraih. Selain itu ada
beberapa tips untuk pengembangan diri :
1. Selalu
konsisten
2. Bertanggung
jawab
3. Kelilingi
diri dengan orang-orang yang bervisi sama
4. Fokus pada
proses, bukan tujuan
Motivasi
merupakan kunci untuk meraih sukses. Yang diperlukan sekarang adalah kemauan
kuat untuk menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Seperti apa kata pepatah
“Ada kemauan ada jalan”.
Percaya Diri memberikan kita kebebasan untuk melakukan
kesalahan dan mengatasi dengan kegagalan tanpa membuat diri kita tidak
berharga. Jika kita memiliki rasa percaya diri, secara tidak langsung dapat
meningkatkan rasa percaya diri orang lain juga. Tentunya tidak ada solusi
instant untuk itu. Yang harus dilakukan adalah mencoba dan mengimplementasikan
tips berikut dalam kehidupan sehari-hari :
1.
Kenali Rasa Ketidak Nyamanan Anda
2.
Kenali Kesuksesan Anda
3.
Bersyukurlah Atas Apa Yang Anda
Miliki
4.
Selalu Berpikiran Positif
5.
Berpakaian Rapi
6.
Berikan Pujian Kepada Orang Lain
7.
Duduk di Bangku Paling Depan
8.
Berbicara dan Tersenyumlah
9.
Berolahraga
3
Tips Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan
Menumbuhkan
Jiwa kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan
sifat-sifat dasar kepemimpinan (kemampuan biasanya yang disebut dengan istilah
“leadership”). Antara lain dengan :
1.
Pengembangan Efektivitas Diri
Kita
dapat melatih ketajaman hati untuk selalu berfokus atau berkonsentrasi kepada
tujuan dan cita-cita hidup, misalnya :
·
Pemahaman atau Persepsi :
Ketajaman dan kejernihan melihat dan merumuskan tujuan-tujuan.
·
Kapabilitas : Kemampuan untuk
memikirkan dan memperjuangkan sesama, Kemampuan untuk bekerja dan belajar dan
mempresentasikan hasilnya.
·
Koordinasi : Kemampuan untuk
mendeskripsikan tugas dirinya dan orang lain, merencanakn hubungan
kerja/belajar, dan mengorganisasikan serta mengatur lalu lintas dan informasi.
2.
Mengembangkan Kemampuan Persuasif
Kemampuan
Persuasif adalah keterampilan mempengaruhi dan mengajak pada perilaku tertentu.
Sejak awal keterampilan tersebut, perlu dilatih dengan menggunakan
kelebihan-kelebihan pribadi kita. kelebihan pribadi itu antara lain : daya
inisiatif, penyampaikan pendapat, menghargai, menyebarkan rasa kasih sayang,
memimpin suatu kegiatan, dan mengambil keputusan.
3.
Mengembangkan Sikap Positif
Sikap
dasar yang membangun jiwa kepemimpinan adalah sikap positif. Sikap positif
tersebut antara lain : Berfikir Positif, beradaptasi, berpartisipasi, berperan
aktif, berbau, berinteraksi, selalu menjaga keakraban, berterus terang, bekerja
sama, saling memahami, menghindari perdebatan dan kata-kata tajam.
KUSERAHKAN PUTRIKU PADAMU (RENUNGAN UNTUK PARA SUAMI)
Saat
pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol
kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami
rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami
melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti
itu kewajiban orang tua.
Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu...
Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.
Tapi,...
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.
Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.
Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.
Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.
Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.
Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.
Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.
Sumber : Pencinta Jilbab Muslimah
Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu...
Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.
Tapi,...
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.
Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.
Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.
Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.
Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.
Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.
Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.
Sumber : Pencinta Jilbab Muslimah
Langganan:
Postingan (Atom)